Showing posts with label Puisi. Show all posts

Jangan Berburuk Sangka!

No comments
Terkadang kamu tak mau mencoba
Mencari tau tentang diriku
Kamu hanya membuat asumsi yang tak pasti
"Aku yakin, Kamu tlah melupakan ku...."

Cobalah datangi diriku
Aku takkan dingin kepadamu
Karna sejujurnya aku merindukan kamu!
Begitu banyak memori yang berputar jelas bak layar sandiwara
Aku teringat kenangan kita dulu
Saat kamu masih denganku

Jakarta, 23 Mei 2014

Renungan

No comments
   Semenjak kemarin, gue masih kepikiran masalah gue yang sebenernya udah selesai. Tapi feeling gue, orang bersangkutan masih marah sama gue. Ya sudah, gue kepikiran. Di jalan menuju sekolah, gue memanjatkan doa, semoga gue dan orang tersebut diberi ketenangan. tadi pas ujian pertama, gue ujian bahasa arab. selese gue ngerjain, ternyata waktu masih tersisa banyak, karna masalah itu gue terinspirasi buat nulis puisi saat itu.

   Gue lebih baik menumpahkan segala perasaan gue lewat puisi, ketimbang gue nulis status difacebook, atau ditwitter. yah, dari pada gue twit war sama orang, mending gue nulis puisi, lebih bagus. haha. akhirnya tadi gue salin di kartu ujian gue. (soalnya nulisnya di lembar soal, wkwk)

Renungan

Ingatkah masa lalu yang diperbuat?
Memancang kepala hanya menatap langit
Tak pula ingat para fakir jalanan
Sadarkah saat itu?

Wahai Insan kamil
dimanakah letak akhlaq yang hilang?
jika bergelimang emas dan perak
jika akal daya pikiran hebat
jika tak rasa sesuap di hotel bingtang lima
itu adalah ujian yang nyata
berhati-hati seribu kali lebih baik
jaga tangan, lisan, dan hati
Yang Esa, Maha tau akan segala sesuatu

Jakarta, 14 juni 2013- ba'da ujian Bahasa Arab

    Ya sudah hanya ini saja segala daya pikiran saya. pikiran gue lagi acak adul, padahal ujian masih 4 hari lagi, ujiaaan.... oh ujiaaaan. eh lupa, ga boleh ngeluh, kita harus sabar, sabar adalah proses naik level. hehe.

Setuju ya!

Masih Tenggelam dalam syair-syair hati

No comments
kemarin hujan
rintik-rintiknya saling berderu
langitnya tetap bersinar
senyuman mentari mengintip dibalik awan

mengiringi kegembiraan sang pujangga

hari ini hujan kembali
rintiknya terlalu deras
udara bergerak terlalu cepat
dahan saja tak mampu bertahan

kini langit berubah kelabu
mengiringi kemurungannya
gundah gulana yang membekukan hati pujangga
siapa yang tega biarkan ia terpenjara?

26/05/2013 16.03 pm

Hasil cecoretan dimalam purnama

2 comments
Ini Rahasiaku

hanya mampu mendengus keras
tepatnya karna sesal
namun ini adalah pilihan
lebih baik terhenti saat ini atau tidak dikerjakan jua

jika diteruskan? siapa yang menanggu beban?
mungkin aku, atau kamu

ini bukan akhir segalanya
kita hanya butuh ruangan berbeda
tak perlulah kita putar memori itu kembali
itu cukup menyakitkan
semoga kita tak berlinangan air mata kembali
cukup hari ini saja.